“Ya…”, lanjut sang Pangeran, ”Tapi diri-ku terasa mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diriku sendiri!”. Tidak ada akhirnyakah semua ini?”. “Kapan aku dapat tenang?”. “Terlampau berat jika dirasakan dan musti dilalui semuanya”, jawab sang Pangeran dengan sedikit lesu dan kelihatan lelah. “Ha ha ha…, itu adalah pelajaranmu berikutnya”, kata sang Pertapa dengan menggelengkan lembut kepalanya. “Akan tetapi sebelum itu semua engkau lalui… coba balikan punggungmu…, dan lihatlah jalan yang telah engkau tempuh selama ini”, dan kemudian sang Pertapa-pun menghilang dihadapannya.
Tidak begitu seketika saja sang Pangeran mengikuti petuah sang Pertapa akan tetapi pada saat dia melihat ke belakang kea rah jalan berangkatnya, betapa terkejutnya ia. Memang agak samar namun jelas. Ketika ia memandang ‘Pintu Ketiga’ yang telah dilaluinya tadi, dari kejauhan tampak ada tulisannya, dan begitu kemudian semakin ditajamkannya pandangannya tampak semakin terjelaskan-lah perkataan yang bertuliskan: “TERIMALAH DIRI-MU”.
Pangeran sungguh-sungguh terkejut dan tercenung, karena sebelumnya tidak melihat tulisan itu ketika melaluinya. Sambil sebentar menggeleng dan menganguk berkatalah dia pada dirinya sendiri: “Memang benar adanya, ketika seorang mulai bertarung maka pada saat itu pula-lah ia mulai menjadi buta”. Keterkejutannya semakin menjadi-jadi tatkala ia melihat sekitarnya, khususnya ke atas tanah di sekililingnya. Tampak di depan mata: “Bertebarannya semua yang pernah dia campaka dan dijatuhkannya, kekurangannya, kelemahannya, bayangan-bayangannya, ketakutannya, kecemasannya, kekhawatirannya, keraguannya, ke-frustasi-annya, dan semuanya yang rasanya perlu dicampakannya dari dirinya sendiri”. “Semuanya ada di situ!”. Sementara itu saat ini ia justru mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencitainya dengan apa adanya. “Entah mengapa itu terjadi dan ada!”. Setelah itu ia kemudian belajar mencintai dirinya sendiri, dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, dan itupun tanpa perlu mengadili dan mencerca dirinya sendiri. “Sang Pangeran dapat menerima bagaimana dirinya seadanya, dan apa adanya dia sebagai dirinya”.
Ketika sang Pangeran sedang merenung dan meresapi kejadian yang sedang berlangsung pada dirinya, tanpa disadari sang Pertapa muncul dihadapannya dan begitu tersadarlakan kehadirannya secara spontan dikatakannya kepada sang Pertapa: “Aku belajar bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri akan sama saja arti dan maknanya dengan mengutuk diri sendiri, untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri”. “Aku benar-benar belajr untuk menerima diriku seutuhnya, apa adanya secara total dan tanpa syarat”. “Bagus…!, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan” ujar Pertapa. “Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua”, katanya kemudian.
Tanpa menunggu berlama-lama segera saja sang Pangeran berjalan menuju ke Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya adalah: “TERIMALAH SESAMAMU” Kembali dia sangat terkejut dan terpana, tanpa dinyana ia dapat melihat orang-orang yang selama ini berada disekitarnya dengan jelas, yaitu: “Mereka-mereka yang disukai dan dicintainya, serta mereka-mereka yang dibencinya”. “Mereka-mereka yang mendukungnya dan juga mereka yang melawannya”. “Mereka-mereka yang mencercanya maupun mereka-mereka yang memujinya”. “Semua yang pro dan kontra ada dan lengkap!” Akan tetapi ada sesuatu yang mengherankannya kemudian: “Ia tak dapat lagi melihat adanya ketidaksempurnaan dan kekurangan dari mereka-mereka itu”, yang sebelumnya justru ”Membuatnya risih, malu, seharusnya dianggapnya tidak ada, tidak diterima, tidak didengarkan, tidak dihormati, tidak dianggap, tidak dipercayai dan tidak menyetujuinya dan karenanya kemudian berusaha keras dirubahnya”.
Tak lama setelah kejadian itu, datanglah sang Pertapa kepadanya. Inilah kempatannya untuk mengutarakan sesuatu yang perlu ditegaskan dan dimantabkan dihatinya, katanya kemudian: “Aku belajar….!”. “Belajar damai dengan diriku sendiri!”. “Ternyata dengan berdamai pada diri, aku tak punya sesuatupun untuk dapat dipersalahkan kepada orang lainnya, aku tak punya sesuatupun yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan dari mereka”. “Kasih sayang yang dalam dengan tulus dan ikhlas ternyata memang dasyat pengaruh dan energinya bagi diri dan semuanya”. “Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka dengan apa adanya”.
“Nahhh… itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan”, ujar sang Pertapa. “Sekarang pergilah ke Pintu Pertama”. Apa yang terjadi pada sang Pangeran setelah itu? Begitu sampai di belakang ‘Pintu Pertama’ dijumpainya tulisan yang berbunyi: “TERIMALAH DUNIA”.
“Sungguh aneh….!” Ujarnya pada dirinya sendiri “Mengapa aku tadi tidak melihatnya sama sekali?”. “Padahal tadi kan kulewati!”. Ditengah-tengahnya keheranan sempat di amatinya keadaan di sekitar dan disekililingnya. Sang Pangeran betul-betul terpana dan terkagum-kagum tanpa kata. Sampai-sampai ia tergerak untuk mengamati semuanya dengan cermat dan detail. “Benar…..!, katanya dalam hati. “Benar…. Ini adalah yang dunia yang waktu itu aku lewati dan jelas aku kenali!”. “Ia melihat dan memandang sekitarnya, dan ia benar-benar mengenali dunia yang sebelum itu berusaha di taklukan dan diubahnya”.
Sekarang….., saat ini… ia betul-betul terpesona dan memandang takjub…., “Betapa cerah dan indahnya dunia ini?”. “Betapa menyenangkankannya dan membuat dirinya nyaman”. “Betapa sempurnanya segala yang ada dengan penuh keharmonian dan kesempurnaan-Nya”. “Tetapi… ini kan dunia yang sama…!”. “Dunia yang tak berubah, dan masih tetap sama seperti saat itu dilewati!”. “Apakah memang dunianya yang berubah atau cara pandangnya?”. “…., atau akunya sendiri yang telah berubah?”.
Kemudian setelah kejadian itu bertemulah sang Pangeran dengan sang Pertapa, dan ditanyailah ia oleh sang Pertapa: “Apa yang telah engkau pelajari sekarang?”. Sambil tersenyum bahagia yang haru dijawabnya pertanyaan tersebut: “Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwa-ku”, dan “jiwa-ku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia”.
“Ketika jiwaku senang dan bahagia, maka dunia-pun menjadi tempat yang menyenangkan dan membahagiakan”.
“Ketika jiwaku muram dan buram, maka dunia-pun kelihatannya muram dan buram”.
“Ketika jiwaku terusik dan kusut, maka dunia-pun tampaknya mengusik dan kusut”.
“Ketika jiwaku bebas merdeka dan lepas, maka dunia-pun terasa bebas, merdeka dan lepas”.
“Aku sendiri menyadari….., bahwa sebenarnya dunia sendiri tidaklah menyenangkan, membahagian, menyusahkan, muram, men-kusutkan, memerdekakan atau membebaskan”. “Dia ‘ADA’…., itu saja”. “Dia menjadi positif atau negative semua tergantung dari pemaknaan yang kita maknakan sendiri kepadanya, menurut keyakinan dan kepercayaan yang kita miliki”.
“Bukanlah dunia yang membuat-ku terganggu, melainkan ide dan gambaranku yang aku lihat mengenainya”. “Aku belajar untuk menerimanya tanpa harus menghakiminya ataupun memberikan penilaian tertentu kepadanya, sejatinyalah untuk menerima seutuhnya dia apa adanya dan tanpa syarat”.
“….Nah…, pas dan benar….., itulah Pintu Ketiga Kebijaksanaan”, kata sang Pertapa. “Sekarang engkau telah berdamai dengan dirimu, dengan sesamamu dan dunia tempat hidup dan berkehidupan”, dan kemudian dengan tiba-tiba saja sang Pertapa-pun hilang meraib di hadapannya.
Sang Pangeran merasakan di sekujur tubuh dan aliran darhnya adanya aliran yang menyejukan dari eksistnya kedamaian, ketentraman dan kebahagian yang berlimpahan merasuki setiap sel dan setiap rongga di dirinya. Ia merasa hening, damai dan tenang yang sunyi. Ia tidak melihat tetapi terlihat, ia tidak mendengarkan tetapi mendengar, ia tidak merasakan tetapi terasa, ia tidak membaui tetapi tercium, ia tidak mengungkapkan tetapi terungkapkan, ia tidak menjaga tetapi terjaga, ia tak menyediakan semuanya tetpi semuanya tersediakan. Semuanya ada dan terserah dia.
Benarkah Kuncinya?:
Kunci untuk mengubah dan membangun diri sehingga bahagia dan tenang hati dan pikirannya, paling tidak adalah: “MENCINTAI diri dengan TULUS dan TANPA SYARAT”, “Kunci mengubah orang-orang di sekitar kita adalah MENCINTAI orang-orang disekitar denagn TULUS dan TANPA SYARAT”, “Kunci mengubah dunia tempat diri hidup dan berpenghidupan adalah MENCINTAI seluruh isi dunia ini dengan TULUS dan TANPA SYARAT”.
He he he he he…….. “Tidak Benar Kuncinya adalah seperti yang disimpulkan di atas!” Lantas apa? Cari sendiri dong…. Lagi pula itu kan sudah dijelaskan ! Jangan hanya menjadi pengetahuan dan hafalan belaka! “Tidak ada yang berbekas di hati nantinya”. “Masak bekasnya malah pikiran di kepalanya?”. “hi hi hi hi…….”.
Mungkin ada satu yang perlu dikenalkan (Cokronagoro, Mei-2007): “Berikanlah seluruh hatimu kepada Sang Maha Pencipta’ Jagad yang gumelar ini’, dan bersyukurlah Sang Maha Pencipta telah membukakan segala jalan bagimu serta memberikan kemudahan-Nya kepadamu”. “Mulailah semuanya dengan kasih sayang yang dalam dari dasar hatimu, dan pandanglah segalanya dengan kepositifan untuk masa kedepannya”. “Saat ke depan ditentukan oleh saat ini berdasar saat lampau untuk masa kedepannya”.
Bangsarei, Thayland
23 Mei 2008
(Cokronagoro)


fs, YM
madhara_uchiha@yahoo.co.id
fb
gagukwibisono@yahoo.com